Seni…

Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta).

Sejarah Unit Seni dan Film (USF)

Unit Seni dan Film (USF)

Universitas Muhammadiyah Surakarta

A. SEJARAH BERDIRINYA UNIT SENI DAN FILM

Pada tahun 1978 UMS yang semula IKIP, ada sekelompok mahasiswa mendirikan sebuah wadah yang diberi nama MENTARI. Didalam MENTARI terdapat beberapa kegiatan diantaranya Penerbitan, Teater, Pencinta Alam. Teater  sempat berproses selama beberapa tahun dan kemudian vakum, namun pada tanggal 24 Mei 1979 Teater kembali bangkit dengan nama Unit Seni dan Film (USF) dan pada tahun ini juga IKIP berkembang menjadi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Pada tahun 1983, anggota USF memiliki gagasan sebaiknya menambah divisi – divisi, yaitu Divisi Musik, Divisi Tari. Kemudian, divisi – divisi tersebut kini dikenal sebagai sub-unit. Pada perkembangannya USF menambah beberapa Sub-Unit yaitu, Sub-Unit Paduan Suara, Sub-Unit Lukis, dan pada tahun 90-an lahirlah Sub-Unit Sastra dan Film (Sasfi). Pada tahun 2000-2001 mulai terlihat perpecahan di Unit Seni dan Film, tahun 2001 Sub-Unit Paduan Suara memisahkan diri dari USF. Pada tahun 2001 – sekarang keanggotaan USF terlihat berkelompok sesuai dengan Sub-Unit yang mereka geluti. Setiap anggota Sub-Unit hanya berkecimpung dan hanya menyukseskan kegiatan yang ada di Sub-Unit masing-masing, hal ini mengakibatkan keadaan USF selama pertengahan tahun 2001 sampai dengan pertengahan tahun 2004 hampir mengalami kevakuman.

Tetapi beruntung pada pertengahan tahun 2004 USf masih memiliki anggota yang masih mau berperan serta untuk menjadikan USF bersatu lagi, sehingga USF masih dapat bertahan sampai sekarang. Walaupun sekarang permasalah seperti itu mulai kembali terasa di USF. Semoga dengan anggota-anggota yang sekarang ini dapat mengatasi permasalahan seperti ini sehingga dapat  MEMBUAT UNIT SENI DAN FILM KEMBALI BERJAYA.

B. SEBAGAI KEORGANISASIAN

Sebagai salah satu lembaga tentunya USF adalah sebuah organisasi yang harus dikelola menurut system management yang berlaku dilingkungan kesenian. Pada dasarnya suatu organisasi adalah sama, yang perlu struktur organisasi serta pembagian job yang jelas tapi itu belum cukup didalam USF masih perlu di tambahkan “rasa” kreativitas dan kesenian.

Hal inilah yang membuat USF berbeda dari organisasi yang lain. Satu kesempatan terhadap para pengurus untuk menunjukkan diri mereka masing – masing adalah bagaimana mereka dapat mengemban tugas yang telah diberikan kepada mereka. Untuk itulah pengurus harus berani, tidak malu – malu, dan janganlah gengsi untuk bertanya kepada setiap anggota USF sebagai bahan pembelajaran supaya dapat menerima pendapat setiap orang tanpa melihat status. Didalam pengolahan rasa inilah yang perlu dipelajari, maka bertanya pun tidak bisa semaunya, tapi kode etik harus tetap dilakukan. Semua ini akan menjadi kepercayaan yang lebih bagi anggota terhadap pengurus. Sebuah konsekuensi harus ditanggung dari segala ucapan yang dikeluarkan sehingga menjadi acuan dalam melaksanakan tugas dalam kepengurusan.

C. SEBAGAI KESENIAN

Kesenian dari kata dasar seni yang punya kecendrungan kalau seni itu ada hubungannya dengan keindahan. Di dalam perkembangan manusia, seni sebagai alat atau perantara tak bisa diabaikan begitu saja, baik sadar atau tidak. Allah SWT menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna dan indah. Barangkali seperti yang kita alami di dunia ini selalu adanya keindahan yang relatif sesuai cara pandang setiap manusia.

Begitu pula dalam angan semua anggota di USF, memimpikan tercipatanya keindahan yang berjalan selaras dan beriringan. Seperti yang telah kita singgung di atas, bahwa USF mempunyai 5 sub-unit, dari sekian macam sub-unit tersebut pada dasarnya sama yaitu mempelajari manusia dari berbagai sudut perspektif yang berbeda dalam menilai suatu keindahan sebagai puncak pengekspresian kepuasan dirinya. Dengan cara yang berbeda, mereka sama-sama dituntut untuk berkreatifitas dalam berkesenian sebagai wujud perkembangan selama ini yang telah mereka dapatkan dalam pencariannya dari berbagai pihak. Kesenian yang kita lakukan adalah mainan tapi jangan dibuat main-, main, maksudnya aktifitas kesenian yang kita lakukan perlu diintensifkan dengan intensitas yang tinggi bukan cuma saat kepengen doing. Sudah banyak anggota USF yang telah merasakan hasil yang tidak main – main karena kemauan, ketekunan, dan intensitas yang tinggi dalam menggeluti bidangnya (sub-unit). Sehingga bisa dikatakan orang lah yang membutuhkan USF untuk hidup mereka.

D. TUJUAN DAN FUNGSI

Sebagai kelompok seni yang berada dalam lingkungan akademik, tentunya USF mempunyai tujuan dan fungsi yang nantinya harus berbenturan dengan birokrasi akademik (AD//ART). Dan ini yang akan menjadi permasalahan bagi USF sendiri baik secara internal maupun eksternal. Dan yang perlu diketeahui bahwa USF merupakan unit kegiatan mahasiswa yang notabennya sebagai wadah untuk mengembangkan minat dan bakat dari para mahasiswa dalam berkesenian tanpa melupakan kewajiban mereka dalam berorganisasi. Memang tidak mudah untuk membangkitkan sebuah kelompok dibidang kesenian, karena akan banyak sekali factor-faktor penghancur yang akan muncul. Apalagi kalau ada kepentingan individual yang mendominasi. Oleh sebab itu,perlu adanya sebuah niatan yang tulus, keikhlasan, kejujuran, kemauan yang tinggi dan pengorbanan dari para pelaku yang nantinya bisa untuk mempertahankan kelompok tersebut.

Dalam beberapa dekade setelah berdirinya USF, sering mengalami pasang surut dalam proses berkesenian baik ditingkatan structural sebagai kelompok maupun dalam bidang kekaryaan, hal inilah yang tentunya perlu disikapi secara bijaksana oleh para pengurus dan semua anggota USF. Karena sebagai pelaku seni tentunya memiliki intelegensi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lain, karena selain menggunakan pikiran tentunya orang seni juga menggunakan perasaan untuk menghadapi kehidupan nyata yang selalu mereka hadapi. Dan tentunya kadangkala pikiran dan perasaan ini akan saling berbenturan yang nantinya akan menggoyahkan para pelaku seni tersebut tmudah sekali mengikuti arus tanpa tahu dengan jelas kebenaran yang hakiki.

Kondisi Perfilman di Indonesia

Ada dua aspek penting dari awal sejarah film untuk melihat bagaimana status dan peranan film ditumbuhkan. * Film dilahirkan sebagai tontonan umum (awal 1900-an), karena semata-mata menjadi alternatif bisnis besar jasa hiburan di masa depan manusia kota. * Film dicap ‘hiburan rendahan’ orang kota. namun sejarah membuktikan bahwa film mampu melakukan kelahiran kembali untuk kemudian mampu menembus seluruh lapisan masyarakat, juga lapisan menengah dan atas, termasuk lapisan intelektual dan budayawan. bahkan kemudian seiring dengan kuatnya dominasi sistem Industri Hollywood, lahir film-film perlawanan yang ingin lepas dari wajah seragam Hollywood yang kemudian melahirkan film-film Auteur. Yakni film-film personal sutradara yang sering disebut sebagai film seni. Dalam pertumbuhannya, baik film hiburan yang mengacu pada Hollywood ataupun film-film seni kadang tumbuh berdampingan, saling memberi namun juga bersitegang. Masing-masing memiliki karakter diversifikasi pasar, festival dan pola pengembangannya sendiri. Sementara pada proses pertumbuhan film Indonesia tidak mengalami proses kelahiran kembali, yang awalnya dicap rendahan menjadi sesuai dengan nilai-nilai seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah ke atas, juga intelektual dan budayawan. FIlm merupakan media komunal dan cangkokan dari berbagai teknologi dan unsur-unsur kesenian. Ia cangkokan dari perkembangan teknologi fotografi dan rekaman suara. Juga komunal berbagai kesenian baik seni rupa, teater, sastra, arsitektur hingga musik. Maka kemampuan bertumbuh film sangatlah bergantung pada tradisi bagaimana unsur-unsur cangkokan teknologi dan unsur seni dari film -yang dalam masyarakat masing-masing berkembang pesat- dicangkok dan dihimpun. Dengan demikian tidak tertinggal dan mampu bersaing dengan teknilogi media, dan seni lainnya. Sejarah film Indonesia menunjukkan unsur-unsur cangkokan dan komunal dari film tak mengalami pertumbuhan berarti. Akibatnya ketika masyarakat dimanjakan unsur visual dan audio, dari perkembangan teknologi media dan seni lainnya seperti televisi, seni rupa, dan lain-lain, masyarakat Indonesia tak mendapatkannya dalam film.(1) Perfilman Indonesia pernah mengalami krisis hebat ketika Usmar Ismail menutup studionya tahun 1957. Pada tahun 1992 terjadi lagi krisis besar. Tahun 1991 jumlah produksi hanya 25 judul film (padahal rata-rata produksi film nasional sekitar 70 – 100 film per tahun). Yang menarik, krisis kedua ini tumbuh seperti yang terjadi di Eropa tahun 1980, yakni tumbuh dalam tautan munculnya industri cetak raksasa, televisi, video, dan radio. Dan itu didukung oleh kelembagaan distribusi pengawasannya yang melahirkan mata rantai penciptaan dan pasar yang beragam sekaligus saling berhubungan, namun juga masing-masing tumbuh lebih khusus. Celakanya di Indonesia dasar struktur dari keadaan tersebut belum siap. Seperti belum efektifnya jaminan hukum dan pengawasan terhadap pasar video, untuk menjadikannya pasar kedua perfilman nasional setelah bioskop.(2) Faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu film nasional salah satunya adalah rendahnya kwalitas teknis karyawan film. Ini disebabkan kondisi perfilman Indonesia tidak memberikan peluang bagi mereka yang berpotensi untuk berkembang. Penurunan jumlah film maupun penonton di Indonesia sudah memprihatinkan. Jumlah penonton dalam skala nasional tahun 1977/78 – 1987/88 tercatat 937.700.000 penonton dan hingga tahun 1992 menurun sekitar 50 persen. Bahkan di Jakarta dari rata-rata 100.000 – 150.000 penonton, turun menjadi 77.665 penonton tahun 1991. Demikian juga dengan jumlah film, dari rata-rata 75 – 100 film pertahun, tahun 1991 / 92 menurun lebih daripada 50 % tahun 1993 surat izin produksi yang di keluarkan Deppen RI, sampai bulan Mei baru tercatat 8 buah film nasional untuk diproduksi.(3) Berikut tabel jumlah produksi film nasional sejak tahun 1987 (4) 1990 1991 1992 1993 1994 115 57 31 27 32 Mengapa mereka menonton film Indonesia ? (5) Daya tarik utama mereka menonton film Indonesia karena * Mengetahui tema, cerita, jenis film seperti terlihat dalam poster dan iklan (60%). * Tertarik pada bintang utamanya (26%) * Resensi film di surat kabar dan majalah hanya 10 % dan inipun kebanyakan dari yang berusia 20 – 25 tahun. Penggemar film di Indonesia(6) Kelompok 1. Cenderung memilih mutu film sebab menonton film bukan sekedar mencari hiburan tapi menikmati karya seni film dalam arti yang lebih luas. Kelompok 2. Cenderung mengikuti arus. Pertimbangan mutu film tetap merupakan referensi bagi mereka. Kelompok 3. Tidak terlalu memilih, sekedar mencari hiburan saja. Penonton Film Indonesia.(7) Berdasarkan angket penonton tahun 1988 dan 1989 yang dilakukan di Bandung, penonton film Indonesia adalah sebagian besar berusia antara 15 – 35 tahun (90%) dengan tekanan usia pada 20 – 25 tahun (40%), lelaki (57%) dan wanita (43%) yang berpendidikan SMA dan perguruan tinggi sebanyak 42% sedangkan 50% mengaku abstain. Mereka ini mengaku menonton film Indonesia lebih dari sekali selama sebulan (59%) dan ada 12% yang menonton lebih dari 5 kali dalam sebulan. Latar Budaya Penonton Film Indonesia. Film Indonesia sekarang ini adalah kelanjutan dari tradisi tontonan rakyat sejak masa tradisional, masa penjajahan sampai masa kemerdekaan ini. Untuk meningkatkan apresiasi penonton film Indonesia adalah menyempurnakan permainan trick-trick serealistis dan sehalus mungkin, seni akting yang lebih sungguh-sungguh, pembenahan struktur cerita, pembenahan setting budaya yang lebih dapat dipertanggungjawabkan, penyuguhan gambar yang lebih estetis dsb. Peningkatan mutu filmis dari genre-genre film nasional yang laris sekarang ini dapat meningkatkan daya apresiasi film bermutu di lingkungan penonton urban yang marginal ini, tetapi mungkin juga dapat ditonton oleh golongan penonton yang terpelajar dan intelektual. Golongan Penonton Film Indonesia yang Lain. Ketidakadilan produksi film nasional sekarang ini terletak pada pelayanannya yang hanya kepada penonton ‘berbudaya daerah’ semacam di atas. Dugaan sementara bahwa golongan terpelajar di Indonesia dipenuhi selera seni pertunjukannya oleh film-film impor yang kondisi atau referensi budayanya cukup baik diapresiasi oleh mereka. Namun kondisi semacam ini tidak dapat terus menerus dilakukan karena film-film impor tersebut jauh dari sejarah, mitos, kondisi dan masalah-masalah Indonesia sendiri. Untuk membuat film bermutu yang laris di semua golongan penonton dengan latar belakang budaya mereka yang berbeda-beda adalah dengan memberi kesempatan kepada para sineas.

Selayang Pandang Seni Rupa Sekarang

Oleh : Aminudin TH Siregar

Seni di zaman sekarang tidak saja luruh di dalam arus besar komodifikasi, tetapi juga menciptakan sejumlah kejanggalan-kejanggalan, baik pada aspek produksi (proses penciptaan karya seni) dan, terutama sekali, pola konsumsi (selera pasar, intrik-intrik, dan etika main). Bertolak dari situ, dunia seni rupa yang sekarang ini mudah tergelincir ke dalam distorsi pemahaman antarkalangan.

Efek yang segera bisa kita rasakan adalah bagaimana seni akhirnya diseret ke ruang yang paling problematis sepanjang sejarahnya, yaitu pertikaian antara seni dan bukan seni dan pertanyaan yang tak sulit dijawab sejarah: apakah seni itu? Bagi sebagian orang, kita di Indonesia dianggap mengalami persoalan dengan ’peristilahan seni’ itu. Namun, hemat saya, sudah bukan waktunya lagi kita mengukur kesemrawutan dunia seni rupa dengan menemukan jawaban definitif tentang seni. ’Peristilahan seni’ hanyalah salah satu variabel saja dari persoalan mengenai seni dan bukan satu-satunya masalah yang esensial.

Distorsi pemahaman yang terjadi akhir-akhir ini di dalam dunia seni rupa menyangkut peran sebuah profesi, seperti kurator, kritikus, kolektor, penyalur seni, sampai galeri, akademi seni, dan bahkan juga selayaknya menyentuh peran menjadi seniman. Apa peran dan fungsi sejumlah profesi maupun lembaga di tengah kejanggalan pasar seni rupa sekarang? Dan apa fungsi seniman dan karyanya di tengah arus itu?

Kalau saya tak salah tangkap kira-kira itulah pokok yang di- gelisahkan, sekaligus diprovo- kasi oleh Arahmaiani di dalam tulisannya (Kompas, 25/5/2008). Tulisan saya ini harap jangan dinilai sebagai jawaban generik tentang situasi yang kita hadapi. Tidak ada obat yang manjur untuk menjernihkan situasi sekarang, bahkan tidak bisa dijawab dengan pameran-pameran gigantik dan dengan dalih wacana sekalipun.

Kejanggalan-kejanggalan

Kejanggalan dalam proses produksi, yaitu ada kecenderungan terjadi keseragaman visual dalam penciptaan lukisan di kalangan muda. Kemudahan-kemudahan alat teknologi seperti proyektor, print-out on canvas, simulasi citraan melalui olah digital dengan komputer cukup mereduksi kerja tangan—manual. Kemudahan di sana melahirkan jarak, yang pada gilirannya kita tidak lagi bisa merasakan ’aura’ sebuah lukisan. Ini aneh, sebab mestinya sensasi ’aura’ itu ada di sana. Saking rapatnya, antara lukisan dan foto kini identik.

Tak ada yang melarang proses itu, apalagi karya semacam itu kini diserap pasar dengan baik, bahkan dianggap lukisan yang paling kontemporer. Sayangnya, ’estetika komputer’ demikian itu bukan diperoleh dari akumulasi perkembangan sejarah seni rupa kita, tetapi lebih merupakan hasil pencerapan pelukis kita terhadap karya seniman China di mana pola pencerapan dilakukan melalui katalog pameran, katalog lelang, buku-buku, internet, dan sebagainya. Yang ditiru dari China itu adalah cara melukisnya, bukan pada cara berpikirnya. Pelukis kita dengan ringannya mengadopsi angle ’estetika China kontemporer’ ini tanpa sensor dan rasa malu sedikit pun.

Kejanggalan di dalam proses penciptaan sebuah karya seni juga merabunkan pasar, sebab memang lukisan yang dihasilkan cukup menarik mata memandang, kita tidak perlu berlama-lama mengernyitkan dahi, sebab memang tidak ada isi. Pelukis muda, kita tahu, masih butuh perjalanan panjang. Dia belum teruji oleh medan sosial, belum teruji oleh sejarah. Akan tetapi, kita kini menghadapi pasar yang juga tidak kuasa menahan diri. Lukisan-lukisan yang tidak jelas (itu kalau kita tilik dari pelbagai aspek), nyatanya dikonsumsi dengan gempita.

Sejarah jadi bisu

Saya akan mengatakan bahwa apa yang terjadi hari ini di dalam dunia seni rupa mengikis sejumlah nilai, misalnya: komitmen sosial seniman; inovasi pada tema; eksplorasi media; pameran eksperimental, dan lain sebagainya. Sejarah pun lenyap, sebab hari ini semua kalangan dan generasi bertemu di kubangan yang sama, yaitu: pasar. Pelukis senior dan yunior tak mustahil bertemu di dalam pameran yang sama. Harga antardua generasi itu pun mengalami persaingan. Kita nyaris tidak lagi menemui suatu peristiwa yang proporsional sebab pasar datang merangsek medan sosial tanpa bekal sejarah yang memadai. Pasar datang dengan kapital, bukan dengan modal kultural. Tak jarang pasar datang dengan membawa selera masing-masing. Kriteria-kriteria yang basisnya dibangun oleh sejarah dengan mudah dipatahkan oleh selera yang demikian itu. Hingga pada batas-batas tertentu, pasar memang menyebalkan dan tidak tahu diri. Bayangkan kalau harga karya Oesman Effendi tidak berkutik di hadapan pelukis ke- marin sore. Bayangkan kalau balai lelang kini semakin ingin menyulap dirinya sebagai barometer sekaligus parameter perkembangan.

Kekisruhan dunia seni rupa kita bersumber dari situasi peralihan yang acapkali terjadi secara fragmentaris. Disebut fragmentaris karena memang tidak tercipta secara sistematik. Situasi pasar yang absurd sekarang ini, misalnya, bukanlah akumulasi sistematik dari perkembangan infrastruktur dan suprastruktur yang baik.

Transformasi dari masa ke masa yang sistematik adalah transformasi yang ditata dari kerapihan menata sejarah serta pelbagai parameternya, baik yang bersifat kanonik maupun hubungan-hubungan yang terjadi di luarnya. Dia bersifat kanonik dalam arti bagaimana infrastruktur seni rupa berdiri dalam sebuah kewibawaan, yang legitimasinya diperoleh dari suprastruktur. Museum, misalnya. Atau lembaga, institusi yang non-akademik maupun akademik yang mengolah wilayah produksi-konsumsi untuk dipakai sebagai tolak ukur di dalam kekisruhan menilai seni. Akan tetapi, siapa yang masih mau mikirin wilayah ini?

Banyak hal absurd di dunia seni rupa sekarang ini. Banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar batas nalar. Mungkin tak heran apabila tidak sedikit orang yang berharap semoga pasar sekarang hanyalah bubble, yang akan surut dalam waktu dua-tiga tahun ke depan. Dan akan tiba suatu masa ketika kita memang menemukan orang yang benar- benar seniman, tidak medioker seperti yang banyak dijumpai sekarang.

Pasang Surut Nyanyian Etnis

PASANG SURUT NYANYIAN ETNIS :

JARANAN di Jember & PERUBAHAN SELERA ESTETIK MASYARAKAT Oleh : Ikwan Setiawan

”Kesurupan itu, yo beras yo ketan, yo waras yo edan.” (pak Tik)

Dum-duman cerita utawa pendahuluan.

Masih terekam dengan baik oleh Mbah Rahman, salah satu sesepuh jaranan di Balung; bagaimana dulu ia begitu hidup menghidupi bersama alam, masyarakat, dan kebudayaannya: Dulunya, wayang, kethoprak, wayang wong, sampai jaranan sangat ramai tanggapan. Lha wong katanya Bapak saya pada zaman Belanda saja para seniman itu jadi idola. Kalo ada pertunjukan, mesti para warga berbondong-bondong. Kebetulan Bapak saya dulu ya pemain ludruk, ya ketoprak, ya jaranan. Ngrangkep-ngrangkep. Wong ndeso jaman segitu, sangat senang disuruh nanggap atau nonton ludruk ataupun wayang. Jaman kemerdekan tambah rame maneh. Waktu itu aku masih kecil, tapi sudah dilatih njathil oleh Bapak. Bapak ingin saya menjadi jathil lanang. Jaman itu belum ada kesenian yang seperti sekarang, semua serba tradisional. Dadi rakyate seneng, senimane ya makmur soale banyak tanggaoan, terutama wong sing punya hajat. Nah, mulai tahun 70-an, kesenian tradisional Jawa tergeser. Lha banyak kesenian modern seperti di tipi-tipi (pen. televisi) itu. Lha wong-wong ndeso wis mulai berkurang semangate nanggap kesenian tradisional. Akhire banyak kesenian tradisional sing kukut (pen. gulung tikar). Sementara Heri Susanto; salah seorang praktisi seni di Balung, menambahkan: Pada awal 80-an, kesenian tradisional di Balung mulai kehilangan ruang bermainnya. Orang-orang di kampung sudah mulai mengenal seni populer. Kalau pada masa sebelumnya pertunjukan kesenian tradisi apakah itu ludruk, ketoprak, wayang kulit, wayang wong, masih cukup semarak. Jember sebagai sebuah lanskap budaya merupakan wilayah yang mempunyai keragaman potensi seni budaya. Hal itu tidak lain disebabkan oleh ragam etnik yang menempati wilayah ini sejak zaman kolonial. Kepentingan pekebun kolonial Belanda akan tersedianya buruh yang relatif murah mengharuskan mereka untuk “mengimpor” penduduk dari wilayah Madura dan wilayah Jawa Mataraman. Jaranan menurut Claire Holt merupakan jenis tari klasik Indonesia yang mengandung relasi magis dengan alam ruh (spirit) dalam bentuk kesurupan (trance). Dalam estetika pertunjukan yang terkesan monoton, ternyata jaranan mengandung nilai-nilai filosofis sebagai penanda dari kebudayaan agraris desa. Secara estetik kesenian jaranan sebenarnya mengambil inspirasi dari gerak dinamis komunitas kuda yang hidup di alam bebas yang mana pada zaman dulu dijadikan alat transportasi utama bagi masyarakat. Menurut Juju Musanah, jaranan merupakan salah satu tari peninggalan zaman pra-kerajaan atau pra-Hindu yang mengedepankan refleksi dari satu kebulatan tekad kehidupan masyarakat yang berkaitan erat dengan adat-istiadat, kepercayaan, dan norma kehidupan secara turun-temurun. Sampai saat ini memang belum pernah ditemukan data historis tentang asal-muasal jaranan di wilayah Jember. Menurut Mbah Rohman, di Balung jaranan sudah mulai berkembang sejak migrasi orang tuanya yang berasal dari wilayah Surakarta. Pada awalnya kesenian jaranan yang dikembangkan mengambil gaya Jawa Tengah-an, kemudian dalam perkembangannya banyak menyerap unsur jaranan Banyuwangen karena ketua kelompok yang sekarang, Pak Bagong, menimba ilmu langsung dari seniman jaranan di Banyuwangi. Hal itu juga terjadi pada kelompok jaranan di Panti, Pakusari, Sumbersari. Dari keterangan beberapa senimannya, jaranan mereka lebih banyak mengambil gaya Banyuwangen yang diperjelas dengan penggunaan unsur gamelan Banyuwangi. Dalam tradisi masyarakat Balung yang ditandai eksistensi kultur agraris dengan sentuhan perubahan akibat modernisasi, Jaranan masih dianggap sebagai sebuah pertunjukan yang patut digelar ketika ada acara hajatan atau selamatan—terutama bagi keluarga yang mampu secara ekonomi. Menurut keterangan Pak Bagong, Ketua Jaranan Turonggo Mulyo ada beberapa alasan kenapa masyarakat di Balung masih gemar nanggap kesenian ini. Pada dasarnya orang-orang kampung itu masih suka hiburan, tapi ya itu, mereka memang sekarang sudah pintar memilih tontonan apa yang benar-benar bisa menghibur. Di samping itu, mereka juga memperhatikan faktor uang. Kalau terlalu mahal, ya mereka tidak kuat nanggap. Maka dari itu, jaranan masih lumayan digemari, karena di samping biayanya tidak mahal, ya karena benar-benar bisa memberikan hiburan kepada warga sekitar sehingga mereka akan berduyun-duyun untuk nonton. Juga karena mayoritas orang di sini itu Jawa, sehingga mereka masih suka nonton jaranan. Nah, kalau banyak orang yang datang, itu akan “membuat senang” yang punya hajatan, karena acaranya dilihat orang banyak. Tabel . Bulan Pertunjukan, Keperluan, dan Kuantitas Bulan Pertunjukan Untuk Keperluan Kuantitas Pertunjukan Mei-Juli Hajatan (Khitanan dan Pernikahan) 4 x per bulan Agustus-September Agustusan (Peringatan Kemerdekaan RI) 3 x per bulan Sumber: Diolah dari observasi dan wawancara Meski begitu tidak bisa dipungkiri, kita sekarang harus bersanding dengan pergolakan dan persaingan dalam kapitalisme global, maka jangan tutup mata bahwa masyarakat desa pun saat ini tengah mengalami perubahan selera estetik. Tapi kembali lagi, pertimbangan ekonomi dan akar tradisi juga menjadi alasan kenapa mereka memilih jaranan. Penghasilan dari bertani akan membuat mereka berpikir dua kali untuk nanggap kesenian berbiaya mahal, seperti rock – dang dut, campursari, apalagi hep-hop’an (red). Meng-utak-atik Pakem, Membaca Modernitas: Pakem bagi para seniman tradisi merupakan sesuatu yang menjadi pedoman dalam beraksi di panggung. Seringkali pakem bagi mereka merupakan sesuatu yang tidak tertulis dan, secara oral, diwarisi secara turun-temurun dari para pendahulunya. Ayu Sutarto menjelaskan: Pakem dalam kesenian tradisional adalah aturan atau kaidah yang telah dibakukan oleh para pewaris aktifnya sehingga suatu produk kesenian dianggap baik dan benar apabila mengikutinya. Jika keluar dari pakem, maka produk tersebut dianggap sebagai produk yang buruk karena melanggar tatanan atau aturan yang menurut pendukungnya merupakan suatu keharusan. Pakem dianggap inti pertunjukan yang terlahir dari sebuah perjalanan kreatif yang melibatkan pengalaman kultural-historis para kreatornya. Menghadapi kehadiran kesenian modern di wilayah desa para seniman tradisi, suka atau tidak suka, harus memikirkan bagaimana mendefinisikan pakem dalam perspektif perubahan selera estetik masyarakat. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kekakuan terhadap pakem semakin membuat mereka terpinggirkan. Adalah sebuah jiwa yang besar-berat-pelik bagi para seniman tradisi, ketika mau tidak mau mereka harus mulai dan senantiasa memulai berpikir jernih, guna memandang segala yang tumbuh harus bergantian, dalam nuansa perbedaan yang semakin dinamik, dan tetap menghormati serta menyelaraskan dengan segala entitas modern. ‘Harus mengikuti perkembangan zaman’ menjadi sesuatu yang ‘wajib hukumnya’ bagi para pelaku kesenian tradisi, tidak hanya di Jember tetapi juga di daerah-daerah lain. ‘Dalil’ tersebut seperti sudah menjadi syarat bagi para seniman tradisi ketika mereka ingin keseniannya tetap eksis dalam arena kontestasi besar kebudayaan. Meskipun harus bersikap moderat terhadap pakem, menurut Ayu Sutarto, di dalam mendefinisikannya kembali sesuai dengan selera publik ada dua cara pilihan. Pertama, mempertahankan citra filosofis yang terkait dengan nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya serta merubah citra fisik yang terkait dengan kostum, tata panggung, dan tata gerak. Kedua, merubah citra filosofis dan menyesuaikannya dengan tema-tema terkini dengan tetap mempertahankan citra fisiknya. Tetapi berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penulis di lapangan, perlu kiranya ditambahkan satu pilihan lagi yakni tetap mempertahankan pakem dengan menambah elemen-elemen estetik yang berasal dari kesenian lain. Dalam memaknai pakem ini, kelompok jaranan di Jember bisa dikategorikan ke dalam 2 kelompok, yakni (1) kelompok yang mempertahankan pakem aslinya (kesurupan dengan tetap mengedepankan adegan-adegan yang berbahaya) dan (2) kelompok yang tetap menggunakan pakem (dengan sedikit menyiasatinya) tetapi menambahkan elemen-elemen seni lain yang mungking lebih populer, yaitu campursari, dang dut, ataupun kendang kempul. Sebagian kelompok jaranan yang ada di Jember—termasuk Turonggo Mulyo—menggunakan pendekatan yang kedua. Sementara yang menggunakan pendekatan pertama semakin sedikit jumlah dan peminatnya. Secara detil, pakem pertunjukan jaranan sebelum dilakukan penambahan bisa dibagi dalam beberapa adegan—pra dan saat pertunjukan—sebagai berikut: Ritual Menjelang Pertunjukan. Pertunjukan jaranan biasanya dilakukan mulai pukul 12.30 WIB hingga sebelum maghrib (fase 1) dan pada malam hari mulai 19.30-00.30 WIB (fase 2). Sebelum pementasan fase 1 dimulai, tukang gambuh dalam kelompok melaksanakan ritual untuk meminta perlindungan kepada Yang Maha Kuasa agar pertunjukan yang akan digelar berhasil dan bisa memberikan manfaat bagi tuan rumah, kelompok, dan masyarakat. Ritual tersebut mensyaratkan adanya kelengkapan sesajen yang terdiri atas: bunga tujuh warna, jenang abang dan putih, beras kuning, telur, sendok dan garpu, pisang satu tandan, nasi putih, ayam ingkung, jajan tradisional, ayam, kelapa, bunga kenanga dalam seember air, seember dawet, tembakau, daun sirih, jambe, seutas benang putih, arang, dan sebotol badeg (minuman dari fermentasi tape singkong). Jathilan. Merupakan adegan pembuka dalam pertunjukan jaranan. Adegan ini berupa tarian yang menyerupai gerakan dari sekawanan kuda yang sedang bermain di padang rumput. Gerakan-gerakan yang lazim dalam adegan ini adalah kejar-kejaran dalam formasi melingkar (ke dalam dan keluar), mberik (menghentakkan kaki ke belakang sambil menggeleng-gelengkan kepala), dan perang-perangan. Tarian ini dimainkan 5-7 jathil wedok (putri) yang rata-rata masih berusia remaja. Pada malam hari yang membuka tarian ini biasanya jathil lanang. Di samping para jathil adegan ini juga dilengkapi dengan kehadiran 1-2 thethek melek yang berperan mendampingi tarian para jathil. Pada akhir adegan thethek melek yang mengenakan topeng ini mengalami trance. Celengan-Kucingan. Adegan ini merupakan kelanjutan dari adegan jathilan. Setelah para jathil keluar dari arena, maka tinggal 2 thethek melek yang mengalami trance. Salah satu penari menggunakan boneka celeng (babi) yang terbuat dari kayu. Sementara penari lainnya tetap mengenakan topeng. Keduanya melakukan atraksi-atraksi yang berbahaya secara akal sehat. Makan padi mentah, kaca, dan bara api ataupu dicambuk merupakan atraksi yang biasa dilakukan oleh keduanya dalam kondisi trance. Barongan (Rampogan). Adegan ini diawali dengan para penari jathil wedok dan lanang (putra) yang menarikan tarian keakraban. 2 orang pembarong yang mengenakan topeng singo barong menyusul ke arena pementasan. Ketika melihat atraksi yang diperagakan para jathil, mereka berdua langsung berputar melingkar dengan atraksi caplokan. Para pembarong berusaha untuk menangkap para jathil yang segera menepi, tetapi mereka tetap bisa menghindar. Pada salah satu jathil lanang tertangkap, ia langsung ikut kesurupan sehingga atraksi trance yang disuguhkan semakin menarik. Buto-butoan (Tari Kiprah). Biasanya adegan ini hanya dilakukan pada pertunjukan malam hari. Adegan tari menuju trance ini dilakukan oleh 2 penari yang mengenakan kostum buto. Pada awalnya mereka menari bersama-sama dalam kekompakan yang tetap terjaga. Gerakan tari yang dilakukan cenderung menggunakan gerakan lebar dan gagah. Atraksi-atraksi akrobatik seringkali diperagakan dalam adegan ini. Setelah menari dalam kebersamaan, akhirnya mereka terlibat perang tanding yang berujung pada trance. Pakem estetik di atas sampai sekarang juga masih dijalankan oleh para seniman jaranan. Namun perubahan selera estetik publik menimbulkan gagasan untuk memberikan tambahan berupa gending-gending campursari dan kendang kempul serta lagu dang dut dalam pertunjukan jaranan. Adapun alasan utama penambahan ini adalah agar para penonton mau datang dan betah untuk menikmati pertunjukan jaranan, terutama generasi muda. Meskipun terdapat penambahan, tetapi para seniman jaranan di Turonggo Mulyo juga “tidak asal tempel”. Mereka tetap mengedepankan atraksi jaranan sebagai sajian utama pertunjukan. Tentang penambahan tersebut, sebenarnya ada sedikit perbedaan pendapat di tataran internal kelompok. Hal tersebut lebih berkaitan dengan eksistensi adegan jaranan yang dikawatirkan akan melenceng dari totalitas permainannya. Pak Yanto sebagai pembina kelompok sudah pernah mengingatkan persoalan tersebut. Sebenarnya sejak awal saya tidak sepakat dengan masuknya kendang kempul ataupun campursari ke dalam adegan jathilan. Itu kan sama saja dengan merusak tatanan jaranan dan terkesan tidak serius lagi. Kasihan itu para jathil (wedok) yang masih kecil-kecil, mereka terkesan hanya ngikut. Bagi saya kalau mau campursari atau kendang kempul ya nanggap sendiri saja, tanpa harus dicampur dengan jaranan. Tetapi, saya hanya sebatas mengingatkan, semua keputusan tetap saya serahkan ke anggota kelompok. Kalau memang itu baik buat mereka, ya gimana lagi. Memang dari pengamatan terlihat jelas bahwa ketika ditambahi kendang kempul, campursari, dan dang dut, para penari jathil—terutama jathil wedok—terlihat kurang bisa mengikuti alunan lagu bahkan terlihat tidak mampu menikmati gerakan tari serta terkesan keponthal-ponthal. Kostum yang dikenakan oleh para penyanyi juga terkesan “seksi” dan tidak sesuai dengan atmosfer tarian yang sedang berlangsung. Namun, bagi para anggota Turonggo Mulyo, penambahan tersebut dianggap sebagai keniscayaan yang tidak bisa dihindari demi melihat selera masyarakat. Mereka hidup di zaman yang sedang bergerak, dan dibutuhkan kesigapan dalam memaknai perubahan yang tengah berlangsung. Ya, gimana lagi, Mas. Ombak zaman sudah seperti ini. Orang desa sangat gemar campursari, kendang kempul, bahkan dang dut. Makanya, kami menambahkannya dalam pertunjukan jaranan agar mereka mau dan betah menonton. Lagi pula, tambahannya kan tidak pada adegan kesurupan, tetapi pada saat jathilan dan akhir pertunjukan. Jadi tidak terlalu melenceng dari pakem jaranan. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, yang pasti kelompok ini dan juga kelompok jaranan lainnya sudah melakukan penambahan dalam konsep estetiknya. Hal itu tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang menyalahi pakem, tetapi sebagai sebuah penyiasatan ala seniman rakyat dalam menyikapi perkembangan zaman. Dalam konteks perkembangan itulah, mereka mencoba membaca sisi modernitas yang terefleksikan dalam selera seni masyarakat desa. Meskipun memberikan penambahan konsep estetik pertunjukan, apa yang dilakukan oleh kelompok Turonggo Mulyo, bisa dikatakan ”tidak keluar terlalu jauh”dari pakem jaranan yang mereka ugemi. Adegan-adegan pakem seperti di atas tetap dipertahankan. Dalam pertunjukan yang digelar, tambahan campursari, kendang kempul, ataupun dang dut diletakkan pada malam hari sedangkan untuk pertunjukan siang hingga sore tetap sesuai dengan pakem yang ada, tanpa tambahan. Adapun penambahan tersebut bisa dibagi ke dalam dua paket, yakni (1) paket campursari di tengah-tengah pertunjukan dan (2) paket campursari di tengah pertunjukan dan jaipongan di akhir pertunjukan. Paket campursari di tengah pertunjukan. Penambahan ini dilakukan ketika adegan jathilan wedok dan lanang. Di tengah-tengah adegan jathilan irama kendang berubah menjadi irama campursari, kendang kempul ataupun dang dut. Perubahan tersebut diikuti dengan munculnya musik keyboard. Tidak lama kemudian, para penyanyi muncul dengan dandanan seksi di tengah-tengah para penari jathil. Pada tembang pertama biasanya mereka menyanyi bersama-sama. Setelah itu mereka akan menyanyi secara bergantian sekitar 5-10 lagu. Di tengah-tengah lagu tersebut, para penari jathil menari dengan gerakan-gerakan sederhana yang ”kurang terkonsep” mengikuti irama lagu. Ketika satu lagu berakhir, musik kembali ke irama jaranan, pun para penari kembali menari dalam suasana riang. Adegan seperti itu berulang hingga tembang terakhir. Ketika lagu terakhir selesai, maka adegan jaranan kembali ke pakem semula. Paket campursari di tengah dan di akhir pertunjukan. Ini merupakan paket lain yang bisa dipesan oleh tuan rumah. Untuk paket di tengah pertunjukan format sama seperti di atas. Sedangkan paket campursari di akhir pertunjukan biasanya berupa format jaipongan (seperti istilah dalam tayuban). Jaipongan ini dilaksanakan ketika semua adegan jaranan sudah usai, biasanya sekitar pukul 11.00 WIB. Pada awal pertunjukan, seorang wiraswara mempersilahkan para penonton yang ingin menari bareng dengan para penyanyi. Penyanyi yang kebagian menyanyi duduk manis di kursi, sedangkan para penyanyi lainnya akan menari dengan para penonton. Para penonton yang hendak penari terlebih dahulu napel (memberikan uang kepada penyanyi dan penari serta tukang kendang). Rata-rata para penari meminta irama kendang kempul karena mereka bisa menari laksana orang yang lagi nggandrung. Pertunjukan ini biasanya selesai pada pukul 01.00 WIB. “Wong-Ndeso” Bertahan Di Tengah Himpitan Globalisasi. Arus besar budaya pop benar-benar mampu menggusur rancaknya irama tradisi yang sebenarnya merupakan representasi dari kehidupan sehari-hari mereka. Chris Barker menyoroti dengan kritis proses homogenisasi budaya global yang berakibat hilangnya keragaman budaya di tingkatan masyarakat lokal sebagai berikut. Tesis homogenisasi budaya menyatakan bahwa globalisasi kapitalisme konsumen menghilangkan keragaman budaya. Tesis ini menekankan pada pertumbuhan ‘kesamaan’ dan dugaan akan hilangnya otonomi budaya yang dikonsepsikan sebagai bentuk imperalisme budaya. Argumen ini berkisar antara dominasi suatu kebudayaan atas kebudayaan lain, yang biasanya disebut dalam konteks nasional. (2004: 117) Kritik Chris tersebut ada benarnya apabila dikomparasikan dengan kondisi tereduksinya keberagaman kesenian dan budaya lokal Indonesia di tengah-tengah masyarakatnya sendiri. Kontinuitas dan keseriusan para pemegang modal untuk masuk ke dalam industri media dan juga pemegang kebijakan telah mengakibatkan berubahnya selera estetik ataupun pola konsumsi wong ndeso terhadap produk mereka sendiri. Budi Sutiono (2003: 205) mengutip Barbara Hartley menegaskan: Imposisi kekuatan media massa berakibat terjadinya penyeragaman pemikiran dan ekspresi, surutnya perbedaan-perbedaan, hilangnya bentuk ekspresi lokal. Bentuk-bentuk seni dan kerajinan dari desa yang dianggap rendah terus mengalami penghilangan akibat serangan gencar media dan barang-barang yang diproduksi massal. Kaum miskin secara ekonomis dan kultural menjadi konsumen ketimbang produsen atas hiburan dan wawasan budaya milik mereka. Hilangnya ekspresi lokal serta kecenderungan menjadi konsumen atas hiburan dan wawasan budaya merupakan fakta yang tengah berlangsung dalam masyarakat desa saat ini. Secara polos, sering kali para remaja desa tampak kebingungan untuk mengidentifikasi jati dirinya, apalagi menentukan orientasi kulturalnya, tradisi atau modern. Sedikit kenyataan yang menarik dan masih tersisa, menyaksikan ramainya penonton dalam pertunjukan jaranan, apalagi dengan hadirnya anak-anak dan remaja yang membaur dengan generasi tua. Sungguh sebuah pemandangan yang kontras tetapi menarik, anak-anak muda dengan pakaian model terkini (celana dan kaos kasual) dengan sesekali tersenyum serta bercanda dengan teman-temannya menikmati pertunjukan jaranan. Meskipun hanya menjadi penikmat pasif, minimal mengetahui bahwa kesenian jaranan masih layak ditonton. Bagi mereka, ketertarikan untuk datang ke pertunjukan jaranan lebih dikarenakan permainan atraktif para penari, terutama ketika adegan trance sehingga tidak membuat bosan dan njlimet. Zaenuri, siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Balung, menuturkan kesukaannya terhadap jaranan sebagai berikut. Kalau kesenian jaranan saya masih bisa menikmatinya, Mas. Karena tidak terlalu sulit dipahami dan tidak njlimet. Apalagi ada adegan kesurupan, wah itu menarik sekali buat saya. Tapi menurut saya harus ada perubahan dalam pertunjukan, kalo bisa harus mengikuti perkembangan zaman, biar tidak ditinggalkan penonton. Kalau hanya monoton sepeeti yang sudah-sudah, pasti akan ditinggalkan penonton. Apalagi kita-kita yang muda ini gampang sekali merasa jenuh. Pendapat Zaenuri tersebut bukan sekedar omong-kosong ala anak muda zaman sekarang. Zaenuri dan juga remaja desa lainnya sudah tidak mungkin lagi menolak masuknya kesenian modern dalam ruang imaji dan ekspresif mereka sehingga ketika membicarakan konteks jaranan, yang muncul adalah kedinamisan ekspresif para penari yang tetap melekat dalam ruang bawah sadar. Adapun permasalahan lain yang dihadapi oleh kebanyakan kelompok jaranan adalah regenerasi, terutama untuk penari. Sebagai kesenian rakyat yang tidak pernah menjanjikan keuntungan secara finansial, kelompok jaranan saat ini kesulitan untuk merekrut para penari muda. Generasi muda desa rupa-rupanya sudah enggan atau bahkan malu untuk menggeluti kesenian asli nenek moyang ini. Mencari dan mendidik penari muda merupakan pekerjaan yang dirasakan sulit bagi sesepuh kelompok. Anak muda zaman sekarang lebih senang bekerja di kota karena ikut jaranan itu tidak akan menghasilkan uang, cuma dapat senang. Lagipula, anak-anak muda sekarang banyak yang malu untuk ikut jaranan. Mereka lebih senang dengan kesenian jrang-jreng seperti yang di tipi-tipi dan CD itu. Memang, rasa malu menjadi faktor utama kenapa anak-anak muda desa jarang bergabung dengan kelompok jaranan. Di Turonggo Mulyo, dari 30 anggotanya, hanya 10 anggotanya yang bisa dibilang anak muda, sedangkan 20 lainnya rata berusia di atas 35 tahun, itupun masih terbilang kerabat atau tetangga dekat. Kesenian jaranan dianggap sebagai warisan masa lampau yang cukup untuk ditonton, bukan untuk dilakoni. Kebiasaan untuk menikmati kesenian modern, seperti musik, telah melunturkan keyakinan mereka tentang sesuatu yang bersifat tradisi. ’Nyarungi Kendang’ utawa sekedar Penutup Demikianlah ’pasang surut nyanyian etnis’ negeri ini, bagai nyanyi sunyi dipadang bunga, lalu bagaimana dengan kita ?. Sebenarnya masih ada lagi himpitan yang tidak kalah pelik adalah persaingan antar kelompok tradisi, yang kadang kala menjurus pada hal-hal negatif; tidak sedikit juga bertabur mistik. Ya, dengan segala daya mereka tetap mendemdam kemesraan yang tertunda, karena harus bersaing untuk sebuah eksistensi hidup, Jaranan. Tapi mari kita lihat disebelah sana: ya dibawah pohon kenitu itu. Seiring dengan ramainya penonton seirama dengan alunan laku para seniaman tradisi, para pedagang kaki lima mulai menjajakan aneka penganan, mainan, dan buah-buahan. Pertunjukan jaranan telah mendatangkan berkah tersendiri bagi mereka. Semakin banyak anak-anak kecil yang menonton jaranan, maka semakin banyak pula rezeki yang mengalir, yang berarti pula rumah menjadi ’mimpi yang sempurna’.

10 Tips Membuat Film Pendek

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus kita perhatikan dalam membuat film pendek. Dengan mengikuti langkah-langkah yang akan diuraikan ini, maka kita dapat mengurangi beberapa hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Meskipun begitu, ini merupakan saran-saran saja, dan dapat dikembangkan berdasarkan keahlian dan pengalaman. Take a look..
1. Apakah film Anda layak ditonton
Sebelum semuanya dimulai, maka selayaknya kita bertanya: apakah semua orang pasti menonton film yang akan kita buat ?. Jawabnya, No!. Artinya tidak semua orang �pasti� akan menonton film kita. Sebelum menulis skenarionya, mari tanyakan kepada diri sendiri terlebih dahulu; mengapa orang harus menonton film yang akan kita buat.

2. Jangan mulai produksi tanpa adanya budget
Film, meskipun sederhana sangat membutuhkan biaya!. Besar biaya memang tidak terbatas, bisa besar bisa kecil. Dengan membuat prakiraan biaya (budget), maka kita akan lebih tahu apa yang harus kita lakukan dengan uang yang dimiliki. Produksi tanpa budget menyebabkan rencana-rencana tidak bisa diprediksi. Apalagi jika uang yang tersedia tidak mencukupi, bisa-bisa film yang sedang dikerjakan tidak selesai-selesai.
3. Minta persetujuan pihak-pihak yang terlibat
Sebelum shooting dilakukan, ada baiknya meminta persetujuan tertulis dari pihak-pihak yang terlibat didalam film, seperti aktor/aktris, music director, artwork, sponsor, atau siapa saja yang ingin berkontribusi. Bereskan dulu semua ini!. Karena kalau memintanya saat shooting dimulai, maka �kemangkiran-kemangkiran� dari pihak-pihak tersebut akan terasa sulit dimintakan pertanggung jawabannya. Maka, do it Now!


4. Buatlah film pendek memang pendek!
Penulis naskah dan/atau sutradara harus bisa memenuhi standar yang menyatakan bahwa sebuah film adalah film pendek. Bertele-tele dalam penyajiannya akan membuat penonton bosan. Jika itu film pendek..maka harus pendek. Meskipun sulit, tapi memang harus begitu. Standar film pendek adalah maksimal berdurasi 30 menit!
5. Jika memakai aktor yang tidak professional, maka lakukan casting
Tidak lepas kemungkinan film pendek dibintangi oleh aktor/aktris yang tidak professional (amatir). Ini sih wajar-wajar saja. Apalagi mereka (mungkin) tidak dibayar. Tapi untuk memilih karakter-karakter pemain yang sesuai, wajib melakukan pemilihan peran (casting). Jangan memilih orang sembarangan apalagi casting baru akan lakukan beberapa saat menjelang shooting. Berbahaya!
6. Tata suara sebaik-baiknya
Tata suara yang buruk pada kebanyakan film pendek (meskipun memiliki konsep cerita menarik) menyebabkan tidak nyaman ditonton. Gunakan perangkat pendukung tata suara seperti boom mike untuk mendapatkan hasil yang baik. Kalau gak punya, beli atau pinjam aja.
7. Yakin OK saat shooting, jangan mengandalkan post-production
Saat ini semua film kebanyakan dikerjakan dengan kamera digital. Maka tidak sulit untuk memeriksa apakah semua hasil shooting sudah memenuhi sarat atau belum dengan melakukan playback. Periksa semua! frame dialog, tata suara, pencahayaan atau apa saja. Apakah sudah sesuai dengan kualitas yang diinginkan ?. Sangat penting; periksa setelah shooting, bukan pada saat paska produksi.
8. Hindari pemakaian zoom saat shooting
Kameraman yang baik adalah yang bisa mengurangi zooming. Kecuali bisa dilakukan dengan sebaik mungkin. Mendapatkan gambar lebih dekat ke objek sangat baik menggunakan dolly, camera glider, atau lakukan cut and shoot!.

9. Hindari pemakaian efek yang tidak perlu
Sebuah film pendek banyak mengandalkan efek-efek seperti; memulai film dengan alarm hitungan mundur (ringing alarm clock), transisi yang berlebihan seperti dissolves/wipe, dan credit titles yang panjang. Pikirkan dengan baik, apakah hal-hal ini perlu ditampilkan atau tidak. Pilihan yang sangat bijak jika semua itu tidak terlalu berlebihan.
10. Hindari shooting malam di luar ruang
Suasana gelap adalah musuh utama kamera (camcorder). Pengambilan gambar diluar ruang pada malam hari sangat membutuhkan cahaya. Apabila tidak menggunakan lighting yang cukup maka hasilnya akan jelek sekali. Meskipun dapat melakukan color correction pada saat editing, tapi sudah pasti dapat menyebabkan noise dan kualitas gambar menjadi drop. Paling baik adalah merubah skenario menjadi suasana siang hari. Tidak akan mengganggu cerita toh?.

(Dari berbagai sumber)

Perbedaan Seni Peran Teater dan Seni Peran Drama

perbedaan seni peran teater dan seni peran drama (sandiwara, film, sinetron,
dll.) adalah:

drama:
1. drama tidak memerlukan pengucapan vokal yang cukup kuat, karena diperkuat
atau diambil oleh microfone
2. emosi tidak perlu kuat, karena akan diperkuat oleh kamera yang mengambil
secara short shoot atau close up
3. make up cukup tipis, karena akan diperkuat oleh kamera
4. pengambilan adegan secara partial atau sebagian-sebagian yang
dipotong-potong menjadi sangat pendek-pendek sesuai dengan yang akan di
ceritakan, sehingga adegan yang salah bisa diulang-ulang hingga mencapai
seperti yang dikehendaki oleh sutradara

teater
1. pengucapan vokal harus sangat kuat, karena penampilan dilakukan di atas
panggung dan vokal harus terdengar hingga penonton di barisan yang paling
belakang.
2. emosi atau perasaan harus ekstreem, karena penampilan dilakukan di atas
panggung dan emosi atau perasaan harus terlihat hingga penonton di barisan
yang paling belakang.
3. make up harus ekstreem, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan
make up harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang.
4. adegan dari awal hingga akhir penampilan atau show harus sempurna, karena
tidak ada jeda atau pengulangan bagi adegan yang salah, salah pada salah
satu adegan atau dialog, maka rusaklah semua performa yang sedang
ditampilkan

Kondisi Perfilman di Indonesia

Ada dua aspek penting dari awal sejarah film untuk melihat bagaimana status dan peranan film ditumbuhkan.

  • Film dilahirkan sebagai tontonan umum (awal 1900-an), karena semata-mata menjadi alternatif bisnis besar jasa hiburan di masa depan manusia kota.
  • Film dicap ‘hiburan rendahan’ orang kota. namun sejarah membuktikan bahwa film mampu melakukan kelahiran kembali untuk kemudian mampu menembus seluruh lapisan masyarakat, juga lapisan menengah dan atas, termasuk lapisan intelektual dan budayawan. bahkan kemudian seiring dengan kuatnya dominasi sistem Industri Hollywood, lahir film-film perlawanan yang ingin lepas dari wajah seragam Hollywood yang kemudian melahirkan film-film Auteur. Yakni film-film personal sutradara yang sering disebut sebagai film seni.

Dalam pertumbuhannya, baik film hiburan yang mengacu pada Hollywood ataupun film-film seni kadang tumbuh berdampingan, saling memberi namun juga bersitegang. Masing-masing memiliki karakter diversifikasi pasar, festival dan pola pengembangannya sendiri.

Sementara pada proses pertumbuhan film Indonesia tidak mengalami proses kelahiran kembali, yang awalnya dicap rendahan menjadi sesuai dengan nilai-nilai seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah ke atas, juga intelektual dan budayawan.

FIlm merupakan media komunal dan cangkokan dari berbagai teknologi dan unsur-unsur kesenian. Ia cangkokan dari perkembangan teknologi fotografi dan rekaman suara. Juga komunal berbagai kesenian baik seni rupa, teater, sastra, arsitektur hingga musik. Maka kemampuan bertumbuh film sangatlah bergantung pada tradisi bagaimana unsur-unsur cangkokan teknologi dan unsur seni dari film -yang dalam masyarakat masing-masing berkembang pesat- dicangkok dan dihimpun. Dengan demikian tidak tertinggal dan mampu bersaing dengan teknilogi media, dan seni lainnya.

Sejarah film Indonesia menunjukkan unsur-unsur cangkokan dan komunal dari film tak mengalami pertumbuhan berarti. Akibatnya ketika masyarakat dimanjakan unsur visual dan audio, dari perkembangan teknologi media dan seni lainnya seperti televisi, seni rupa, dan lain-lain, masyarakat Indonesia tak mendapatkannya dalam film.(1)

Perfilman Indonesia pernah mengalami krisis hebat ketika Usmar Ismail menutup studionya tahun 1957. Pada tahun 1992 terjadi lagi krisis besar. Tahun 1991 jumlah produksi hanya 25 judul film (padahal rata-rata produksi film nasional sekitar 70 – 100 film per tahun). Yang menarik, krisis kedua ini tumbuh seperti yang terjadi di Eropa tahun 1980, yakni tumbuh dalam tautan munculnya industri cetak raksasa, televisi, video, dan radio. Dan itu didukung oleh kelembagaan distribusi pengawasannya yang melahirkan mata rantai penciptaan dan pasar yang beragam sekaligus saling berhubungan, namun juga masing-masing tumbuh lebih khusus. Celakanya di Indonesia dasar struktur dari keadaan tersebut belum siap. Seperti belum efektifnya jaminan hukum dan pengawasan terhadap pasar video, untuk menjadikannya pasar kedua perfilman nasional setelah bioskop.(2)
Faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu film nasional salah satunya adalah rendahnya kwalitas teknis karyawan film. Ini disebabkan kondisi perfilman Indonesia tidak memberikan peluang bagi mereka yang berpotensi untuk berkembang.

Penurunan jumlah film maupun penonton di Indonesia sudah memprihatinkan. Jumlah penonton dalam skala nasional tahun 1977/78 – 1987/88 tercatat 937.700.000 penonton dan hingga tahun 1992 menurun sekitar 50 persen. Bahkan di Jakarta dari rata-rata 100.000 – 150.000 penonton, turun menjadi 77.665 penonton tahun 1991. Demikian juga dengan jumlah film, dari rata-rata 75 – 100 film pertahun, tahun 1991 / 92 menurun lebih daripada 50 % tahun 1993 surat izin produksi yang di keluarkan Deppen RI, sampai bulan Mei baru tercatat 8 buah film nasional untuk diproduksi.(3)
Berikut tabel jumlah produksi film nasional sejak tahun 1987 (4)

1990 1991 1992 1993 1994
115 57 31 27 32

Mengapa mereka menonton film Indonesia ? (5)

Daya tarik utama mereka menonton film Indonesia karena

  • Mengetahui tema, cerita, jenis film seperti terlihat dalam poster dan iklan (60%).
  • Tertarik pada bintang utamanya (26%)
  • Resensi film di surat kabar dan majalah hanya 10 % dan inipun kebanyakan dari yang berusia 20 – 25 tahun.

Penggemar film di Indonesia(6)

Kelompok 1.
Cenderung memilih mutu film sebab menonton film bukan sekedar mencari hiburan tapi menikmati karya seni film dalam arti yang lebih luas.

Kelompok 2.
Cenderung mengikuti arus. Pertimbangan mutu film tetap merupakan referensi bagi mereka.

Kelompok 3.
Tidak terlalu memilih, sekedar mencari hiburan saja.

Penonton Film Indonesia.(7)

Berdasarkan angket penonton tahun 1988 dan 1989 yang dilakukan di Bandung, penonton film Indonesia adalah sebagian besar berusia antara 15 – 35 tahun (90%) dengan tekanan usia pada 20 – 25 tahun (40%), lelaki (57%) dan wanita (43%) yang berpendidikan SMA dan perguruan tinggi sebanyak 42% sedangkan 50% mengaku abstain. Mereka ini mengaku menonton film Indonesia lebih dari sekali selama sebulan (59%) dan ada 12% yang menonton lebih dari 5 kali dalam sebulan.

Latar Budaya Penonton Film Indonesia.

Film Indonesia sekarang ini adalah kelanjutan dari tradisi tontonan rakyat sejak masa tradisional, masa penjajahan sampai masa kemerdekaan ini. Untuk meningkatkan apresiasi penonton film Indonesia adalah menyempurnakan permainan trick-trick serealistis dan sehalus mungkin, seni akting yang lebih sungguh-sungguh, pembenahan struktur cerita, pembenahan setting budaya yang lebih dapat dipertanggungjawabkan, penyuguhan gambar yang lebih estetis dsb.

Peningkatan mutu filmis dari genre-genre film nasional yang laris sekarang ini dapat meningkatkan daya apresiasi film bermutu di lingkungan penonton urban yang marginal ini, tetapi mungkin juga dapat ditonton oleh golongan penonton yang terpelajar dan intelektual.

Golongan Penonton Film Indonesia yang Lain.

Ketidakadilan produksi film nasional sekarang ini terletak pada pelayanannya yang hanya kepada penonton ‘berbudaya daerah’ semacam di atas. Dugaan sementara bahwa golongan terpelajar di Indonesia dipenuhi selera seni pertunjukannya oleh film-film impor yang kondisi atau referensi budayanya cukup baik diapresiasi oleh mereka. Namun kondisi semacam ini tidak dapat terus menerus dilakukan karena film-film impor tersebut jauh dari sejarah, mitos, kondisi dan masalah-masalah Indonesia sendiri.

Untuk membuat film bermutu yang laris di semua golongan penonton dengan latar belakang budaya mereka yang berbeda-beda adalah dengan memberi kesempatan kepada para sineas.

Nasib Kesenian dan Seniman Aceh

Salah satu tradisi yang menjadi warisan turun temurun dalam masyarakat adalah kesenian. Dalam konteks Aceh, orang yang mahir berkesenian pada zaman dahulu sangat dihormati. Seseorang yang mempunyai keahlian di suatu bidang seni akan jadi perhatian. Kesenia sebagai bagian dari kebudayaan tidak terlepas dari nilai-nilai tradisi suatu daerah. Dalam literature budaya Aceh, kesenian Aceh tidak dapat terlepas dari nilai-nilai keislamian. Namun demikian dengan masuknya arus globalisasi dan westernisasi, membuat kesenian di Aceh terasa kurang diminati atau mengalami gejolak melonjak ke Barat-tan. Kesenian sebagai tradisi sebenarnya mengandung nilai-nilai luhur yang bisa menjadi panutan dalam kehidupan masyarakat. Namun keberadaan kesenian sekarang ini cenderung hanya dijadikan sebagai ‘tukang hibur’ atau alat pengibur. Kesenian pada akhirnya kurang menjadi perhatian. Demikian halnya di Aceh, kesenian hanya dipakai dalam acara-acara tertentu saja. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesenian di Aceh membuat parapegiat seni atau pegiat kebudayaan di Aceh tidak mendapatkan posisi yang layak di mata masyarakat. Ahkhirnya parapegiat seni yang sering kita sebut sebagai seniman itu menjadi kalangkabut dalam mentrasfer nilai-nilai luhur Aceh yang termuat dalam kesenian tersebut. Dalam konteks membangun sebuah daerah atau wilayah sebenarnya tidak harus hanya berpaku pada bentuk fisik saja semisal pembangunan rumah dan jalan raya. Kebudayaan lokal sebagai suatu ciri khas daerah sangat perlu mendapat perhatian dalam pembangunan. Kesenia daerah termasuk ke dalam kebudayaan lokal. Melupakan tradisi lokal dalam pembangunan dapat merombak kebudayaan lokal tersebut. Merombak kebudayaan sama halnya dengan tidak menghormati nilai-nilai yang sudah diwariskan oleh leluhur. Oleh karena itu peran kesenian Aceh dalam membangun Aceh juga diperlukan, karena kesenian suatu daerah merupakan lambang kebanggan dan dientitas daerah tersebut. Kurang Perhatian Pemerintah Kurangnya perhatian pemerintah terhadap nasib seniman dan kesenian Aceh dapat dilihat pada kurangnya partisipasi pemerintah dalam membangun dan mensupport parapegiat seni di Aceh. Pemerintah, katakanlah dalam hal ini Pemda, hanya mengenal tradisi dan kesenian Aceh pada saat acara-acara tertentu. Misalkan ada acara pertemuan, seminar, atau sejenisnya. Maka salah satu sanggar kesenian di Aceh diundang dalam acara tersebut. Untuk apa? Untuk menghibur hadirin. Akhirnya timbullah image dalam tubuh pegiat seni Aceh, seniman adalah sebagai penghibur pejabat atau orang beruang. Sebagai lelaki atau perempuan penghibur, mereka tentunya mendapatkan bayaran. Setelah dibayar, ‘loe loe, gue gue’ kata orang Jakarta dan ‘raket bak pisang’ kata orang Aceh. Artinya, bagaimana kesenian itu seterusnya hanya jadi tanggung jawab pegiat kesenian, sedangkan yang mengundang, selepas membayar bebas urusan. Masalah bayaran cukup atau tidak juga di luar urusan. Ketika kesenia hanya dianggap sebagai tukang hibur, roh kesenian mudah luntur. Oleh karena kesenian sebenaranya memiliki peranan penting dalam pembangunan, maka kesenian bukan sekedar alat penghibur. Sebuah kasus pernah melanda kesenian di pantai Barat Aceh yang penulis simak dari hasil bincang-bincang di suatu senja dengan salah seorang pegiat seni asal Aceh Barat, Rosni Idham. Seniman yang juga penulis wanita Aceh itu mengaku bahwa kesenian dan Seniman di Aceh Barat kurang diperhatikan. Hal ini terlihat, kurangnya bantuan yang disalurkan oleh lembaga donor, baik Pemerintah maupun NGO. Pemda maupun NGO hanya peduli pada kesenian di sana ketika hendak mengadakan suatu acara saja. Sedangkan ketika seniman di sana minta bantuan untuk fasilitas, tidak pernah dihiraukan, demikian tutur Rosni. Dibandingkan dengan bidang lain, misalkan olah raga, kesenian benar-benar dianaktirikan. Setiap orang yang mendapatkan satu medali emas dalam setiap cabang olah raga memperoleh honor Rp10 juta dari pemda, sedangkan seniman? Tanda tanya di ujung kalimat di atas, penulis ajukan sebagai sebuah renungan bagi kita semua. Apa yang didapat oleh seorang seniman yang sudah berhasil seperti seorang olahragawan dari Pemdanya? Bukankah banyak pegiat seni Aceh yang sudah memamerkan kesenian lokal Aceh sampai taraf internasional? Tidak hanya di Pantai Barat, kasus serupa juga melanda seniman di seluruh Aceh. Banyak pegiat seni di Aceh tidak memiliki tempat untuk berkreativitas. Atau ketika sebuah kelompok seni ingin mengadakan acara, mereka kalang kabut mencari dana. Minta dana ke Pemda, jawabannya tidak ada plot dana untuk kegiatan kesenian. Agar tidak dinilai deskriminasi, Pemda mencoba memberi solusi. Solusinya, kelompok seni tersebut di suruh minta ke tempat lain. Tempat lain yang sudah ditunjuk oleh Pemda tadi, menunjuk tempat yang lain pula. Tempat yang lain pula menunjuk tempat yang lain lagi. Begitu seterusnya sehingga pegiat seni menjadi bola. Kelompok seni yang gigih mengais tetap menuruti petunjuk-petunjuk tersebut, walaupun mereka sadar sudah jadi bola yang diopor ke sana sini. Alhasil, nihil! Ini gambaran seniman dan kesenian di Aceh sekarang yang tidak pernah mendapat posisi di mata pemerintah yang katanya ingin membangun Aceh ke depan lebih maju dan bermartabat. Jika pemerintah tetap menilai kesenian hanya milik paraseniman, niscaya kesenian kita tidak akan pernah maju dan berkembang. Jika kesenian suatu daerah tidak berkembang, nilai-nilai tradisi pun akan mudah mengalami penurunan. Sedangkan kita tahu kesenian lokal merupakan tradisi suatu daerah yang menjadi lambang kebangaan dan identitas duatu daerah. Maka apa yang menjadi kebanggan kita jika kesenian kita hancur? Penulis, Mahasiswa FKIP PBSID Unsyiah, penulis dan pegiat seni di Banda Aceh.

Kesenian Aceh

Padahuluan
Para ahli mendefinisikan bahwa kesenian itu adalah ekspresi hasrat manusia tentang keindahan. Adapula pandangan yang menyatakan kesenian itu tidak selalu terkait dengan keindahan.[1]
Kesenian pada umumnya merupakan salah satu unsur universal kebudayaan. Kebudayaan adalah perangkat symbol yang diperoleh lewat proses belajar dalam kehidupan masyarakat, berfungsi untuk meletarikan kehidupan.[2]
Kesenian merupakan salah satu unsure kebudayaan universal. Dalam berbagai bentuk atau jenis kesenian terkandung muatan nilai-nilai yang bersifat abstrak. Di antara nilai itu adalah nilai indah, halus, riang, iman, taqwa, dinamis, kreatif, melakonis, harmoni, kebenaran, tertib, herois, patriotis, dan lain-lain. Nilai-nilai itu diinternalisasikan mengisi pengetahuan anggota masyarakat melalui proses belajar. Akan tetapi, perubahan keadaan tertentu proses internalisasi itu dapat saja tidak berjalan dan nilai-nilai itu mulai bergeser atau hilang. Sebaliknya, apa yang dapat diamati, misalnya tarian, seni rupa, teater atau yang biasa didengar seperti irama musik, pembacaan atau penembangan seni sastra, merupakan gejala-gejala seni atau bagian dari kebudayaan umumnya. Sedangkan di balik gejala itu tersirat pesan-pesan seperti nilai-nilai atau unsur budaya tertentu yang masih harus dipelajari.
Banyak orang tahu tentang jenis kesenian yang ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Akan tetapi sedikit orang yang paham tentang nilai-nilai yang terkandung dalam beragam jenis kesenian itu.
Pada awalnya, para pengamat seni dari Barat menganut satu corak pandangan tentang produk-produk kesenian tradisional di luar Eropa. Mereka berpendapat bahwa produk kesenian tradisional itu tidak bermutu, dangkal, kasar, kekanak-kanakan, terbelakang dan tidak dapat menerima perubahan. Atau mereka menyebutnya dengan kesenian primitif. Namun, kemudian muncul pandangan lain yang berbeda. Dari hasil-hasil penelitian lebih mendalam, mereka mulai menyadari bahwa produk kesenian tradisional ternyata didasari ide-ide yang kompleks, menunjukkan teknik yang matang, gaya yang khas dalam bentuk yang abstrak, merupakan karya yang penuh hayali dan simbolistik. Adakah pemilik kesenian itu sendiri mengerti dan mengenali muatan-muatan yang diemban kesenian-kesenian tradisional itu. Untuk itu, tulisan ini membahas secara singkat kesenian Aceh, khususnya fungsi seni sastra bagi pembentukan kepribadian umat dan paket wisata budaya.
Estetika Multi Kultural
Agama Islam yang dibawa oleh para pedagang baik dari Asi Kecil maupun lainnya telah memberi pengaruh yang kuat di Aceh. Gagasan sufisme yang menjadi mainstream tradisi Islam di Aceh dahulunya – juga Persia ternyata sangat kuat mengakar di masyarakat. Puisi dan prosa Persia menjadi medium ketika menyampaikan pengetahuan yang berhubungan dengan moralitas individu, etika, politik, masalah eskatis, dan secara luas perspektif genostik yang hidup dalam sejarah manusia. Di Aceh, syair Hamzah al Fansuri dapat dikatakan yang terbaik pada zamannya yang juga menggunakan bahasa Melayu sebagai olah sastra.
Dari itu dapat difahami bahwa perkembangan seni di Aceh terjalin erat dengan dua ruang interseksi, doktrin Islam dan budaya lokal kelompok penyebarnya. Budaya lokal penyebarnya tidak berdiri sendiri, budaya Gujarat dan Persia merupakan dua budaya yang walaupun mengalami proses inkorporasi dengan Islam tetapi tidak sepenuhnya mengaborsi keyakinan tradisional dalam ketekunan karya seni mereka, yang telah dihasilkan ribuan tahun sebelum Islam.
Bentuk-bentuk tempaan seni Aceh ternyata mempunyai hubungan paradigmatik dengan lingkungan Gujarat.[3]
Lipatan-lipatan bangunan yang menyerupai kelopak bunga teratai menunjukkan pengaruh pra-Islam telah diakomodir oleh penguasa kesultanan Aceh. Bentuk makam yang dibentuk dengan pola simetris dan menyerupai di kerajaan Mogul, India. Adapun bentuk sulaman, perhiasan rambut, gelang tangan dan kaki, serta ikat pinggang pengantin perempuan juga memiliki corak dan bentuk yang hampir sama pula.[4]) Namun dalam desain gambar, hasil tenunan Aceh telah menghilangkan bentuk-bentuk binatang dan menggantikannya dengan gambar bunga, buah-buahan atau Arabesque dan olahan geometric, sebagai pengaruh budaya Islam.
Pada umumnya seni sastra Aceh bernapaskan suasana Islam. Hikayat Perang Sabil, Hikayat Akhbarul Karim, Hikayat Teungku Malem, misalnya, mengisahkan perjuangan perkembangan Islam, nilai sejarahnya tentu mempunyai nilai tersendiri. Banyak karya-karya lainnya, semuanya tidak lain adalah harta budaya yang tidak ternilai harganya. Sekarang jangankan untuk dibaca, bukunya pun sudah cukup sulit didapatkan. Deru kehilangan khazanah tradisi itu harus ditanggulangi sehingga dapat kembali berkembang. Mungkin tidak begitu disadari sehingga kita pun tidak melakukan daya upaya untuk membendungnya. Padahal identitas masyarakat Aceh berada di dalamnya, jiwa dan sukma masyarakat juga bersemayam di dasarnya.
Aceh pada masa silam pernah menduduki tempat terhormat dalam pengembangan seni satra Melayu di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah karya tulis telah muncul ke permukaan waktu itu, baik berupa kitab-kitab agama maupun naskah-naskah yang menyangkut nilai-nilai kemanusiaan. Sastrawan-sastrawan termasyhur kala itu, telah mengharumkan nama kesultanan Aceh karena keunggulan karya-karya mereka. Seiring dengan kegiatan tersebut, sastra Aceh juga memegang peranan penting dalam upaya pengembangan sekaligus memberi sumbangan pikiran kepada masyarakat, baik berupa ilmu pengetahuan maupun pendidikan moral melalui cerita rakyat yang menjadi kegemaran masyarakat.
Dalam sastra Aceh, cerita prosa dikenal dengan istilah haba, sedangkan bentuk puisi disebut ca’e, karena berkaitan dengan masalah rima atau persamaan bunyi maka disebut narit meusantok atau narit meupakhok. Kedua istilah ini sesungguhnya lebih berhubungan dengan sastra lisan, sebab narit menyaran pada kelisanan, ialah tutur bersajak. Prosa sedikit sekali diturunkan ke dalam bentuk tulis, yang banyak dijumpai masih dalam tradisi lisan.[5]
Bentuk prosa dalam konvensi sastra Aceh tidak selalu murni prosa, dalam berbaga bentuk penyampaian selalu memperlihatkan pola tutur yang bersajak.
Haba
Haba dapat dibagi dalam beberapa jenis :
a.narit meujeulih
Adalah tutur adat dalam berbagai majelis atau dalam pertemuan-pertemuan formal, seperti pada upacara resmi peradatan. Misalnya, “…taploih panyang talingkang paneuk, buet nyang rayeuk tapeu ubeut, nyang ubeut tapeugadoh, bah bu bacut asai meusampe. Nibak putoih bahle geunteng, nibak buta bahle juleng. Syarat adat tamufakat, syarat hukom tameuseu’on, syarat kanun ban nyang bulueng, syarat reusam nyang sipadan, syarat janji pantang meu’ungki…” (…diurai panjang diringkas pendek, masalah besar diperkecil, yang kecil dihilangkan, biar sedikit asal bernilai. Daripada putus lebih baik genting, daripada buta biarlah juling. Syarat adat bermufakat, syarat hukum saling mendukung, syarat kanun berpegang jalur, syarat reusam nyang sipadan, syarat janji pantang mungkir…)
2.haba jameun
Haba dipandang sebagai jenis sastra yang tidak serius karena sering disampaikan dalam suasana santai, sebagai cerita perintang waktu dan dibumbui dengan kelucuan-kelucuan atau sebaliknya melukiskan sesuatu kejadian yang dekat dengan mitos. Misalnya, cerita tentang asal usul (haba jeut bumoe, haba asai pade, dll). Kejadian yang dilukiskan kebanyakan bermula dari peristiwa terjadinya pelanggaran-larangan. Dahulu dikatakan binatang itu dapat berbicara seperti manusia, dan monyet dikatakan berasal dari manusia tetapi karena melanggar larangan maka jadilah ia seperti yang kita saksikan sekarang, menjadi monyet dan kancil tidak dapat lagi berbicara seperti manusia.
Dalam kehidupan sekarang ini cerita prosa hanya dipandang sebagai cerita pengantar tidur saja bagi anak-anak. Pada masa lalu cerita tersebut mempunyai fungsi didaktis yang sangat berperan dalam masyarakat.
Ca’e
Dalam seni sastra Aceh secara tradisional dikenal beberapa bentuk, baik yang diterima dari tradisi Melayu maupun yang dikembangkan dari konvensi puisi Arab, di samping puisi-puisi asli Aceh. Jenis-jenis puisi tersebut di antaranya sebagai berikut :
1.Puisi sanjak
Sanjak merupakan puisi cerita, untuk sastra Melayu mungkin dapat disamakan dengan syair. Akan tetapi sanjak tidak mengenal bait dan lariknya dua kali lipat panjang larik syair atau pantun. Misalnya, Hantom/digob/na di/geutanyoe//,saboh/nanggroe//dua/raja//
Saboh/jalo/dua/keumudoe//,teuntee/paloe//akhe/masa//
(tidak diorang ada di kita, satu negeri dua raja, satu perahu dua kemudi, tentu akhirnya jadi celaka)
Dalam kegiatan kesenian dan kegiatan adat, sanjak selalu dipakai. Sanjak terutama sekali dipakai untuk menyampaikan hikayat yang merupakan genre utama dalam tradisi sastra Aceh. Di samping hikayat, sanjak juga dipakai dalam penyampaian kisah dalam berbagai jenis pertunjukan kesenian. Sebagaimana dimaklumi, sesungguhnya pertunjukan kesenian itu sekaligus merupakan pementasan puisi lisan, karena puisi di sini berperan sebagai musik pengiring tarian, kebanyakan tarian Aceh jarang diiringi dengan instrument musik. Sanjak juga sering dipakai dalam kegiatan peradatan. Untuk melayani tamu, biasanya tuan rumah mewakilkan seseorang yang mahir dengan tutur bersajak dalam mempersilakan duduk tamu yang datang atau mempersilakan menyantap hidangan yang telah disediakan. Dengan sangat bersahaja pembawa acara biasanya mengucapkan beberapa patah kata, misalanya,
Assalamualaikum warahmatullah, jaroe dua blaih ateuh jeumala
Cit ka bunoe kon Teungku neupiyoh, ranub lam bungkoih han soe peutaba
Neumaklum kamoe ureung bineh gle, teunte han sabe ngon ureung banda
Meubri hidangan pi aleh pakri, bek male hate keu Teungku dumna
Neupeusinget geupet neurah ngon jaroe, neu makeun beutroe hana sapeuna
Eungkot di laot jiwet-wet iku, Teungku pajoh bu campli ngon sira
2. panton
Adalah ikatan puisi yang diterima dari Melayu. Dalam seni sastra Aceh dikenal dua panton, yaitu panton Aceh dan panton Melayu[6] Panton Aceh susunan larik dan persajakannya sama dengan sajak. Sedangkan panton Melayu, disebut demikian karena bahasanya dicampur dengan bahasa Melayu tetapi persajakannya masih tetap mengikuti sistem persajakan dalam sajak. Misalnya, pade sipulot sitamon dulang, Ambek kureundam dalam kuali, rupalah jeuheut bangsa pon kurang, apa cek pandang keupada kami. (Padi pulut di dalam dulang, lalu kurendam masuk kuali, rupaku buruk bangsa pun kurang, apa yang cik pandang kepada kami).
Nalam
Ikatan puisi yang ketat dengan cara pelaguan yang khusus pula. Tidak dapat diselipkan kata-kata lain ke dalam lariknya untuk keperluan penyesuaian irama sebagaimana halnya dengan sajak dan pantun. Karena itu, nalam terbatas pemakaiannya, terutama pada ajaran agama.[7] Misalnya, wajeb iman dum geutanyoe akan nabi//wajeb pateh peue nyang neukheun uleh nabi//
Beutapateh nyang goh datang neupeuhaba//
Mise mawot nyang that saket tapeurasa
Mise neupeugah adeub kubu di si kaphe//
Ureung maksit nyang tan teebat mate jahe
(wajib beriman semua kita akan Nabi
Wajib percaya yang disabdakan Nabi,
Yakin peruntungan yang bakal tiba,
Tamsil ajal sungguh sakit derita
Terkabar azab kubur bagi si kafir,
Pemaksiat yang tidak bertaubat akan mati jahil)
Karya-karya seni sastra Aceh selain mempunyai daya pikat yang menaklukkan juga menyimpan makna filosofis yang peka dan dalam, misalnya
Bek cok tameh kayee bungkok
Meunyoe keu yok cit nyan jimita
Bek sileuweue jeut ke tangkulok
Beutat beu brok-brok cit beu ija
Tiek lingiek menurot linggang
Tameupinggang meunurot ija
Ngui banlaku tuboh
Pajoh banlaku atra
(Jadi tiang bukan perlu kayu bengkok
Untuk pedati itulah yang dicari
Celana jadi destar jelas tidak cocok
Walau lusuh hanya kain sepantasnya
Tampil bergaya mengikuti lenggang
Berpakaian sesuai keadaan
Berhias padankan badan
Berbelanja ukurlah kemampuan).
Betapa saratnya makna yang tersimpan dalam ungkapan tersebut dan renungan silih berganti. Waktu terus beredar tanpa pernah kenal berhenti. Menawarkan kemungkinan bermacam pilihan.
Pembentukan Kepribadian Umat
Seperti sudah dimaklumi bahwa penulis-penulis Aceh adalah orang yang beragama Islam. Hal yang membedakan mereka hanya faktor kealiman dan kedudukan sosial saja. Karya-karya mereka berbeda jenisnya mungkin juga karena latar belakang kedua faktor di atas. Para ulama lebih mengarahkan ciptaan mereka pada karya keagamaan yang berisi amar makruf nahi munkar dan ajaran-ajaran lainnya yang sesuai dengan tuntunan Islam. Jenis karya keagamaan itu dalam sastra Aceh dapat dibagi dua adalah tambeh (peringatan atau nasihat) dan syarah (komentar atau penjelasan), yang dalam sastra Melayu dapat disamakan dengan sastra kitab.[8]
Karya-karya jenis fiksi, baik yang berupa romansa (misalnya, Hikayat Putroe Gumbak Meiuh, Hikayat Nun Parisi) maupun Epos (misalnya, Hikayat Pocut Muhammad, Hikayat Meukuta Alam). Sekalipun bukan karya keagamaan, namun karya-karya tersebut masih dapat dikatakan sebagai karya yang berangkat dari asas agama Islam. Aspek hiburan memang lebih menonjol, tetapi menganut amanat yang bermanfaat bagi pembentukan kepribadian umat.
Melalui tokoh protagonis penyair menampilkan tingkah laku dan sifat-sifat terpuji sang tokoh, seperti sifat penyabar, rendah hati, pengasih, pemurah, hormat kepada orang, selalu ingat pada Allah dan memohon perlindungan pada-Nya. Begitu watak ptotagonis yang sering dijumpai dan secara nyata dipertentangkan dengan watak tokoh antagonis yang serba hitam, culas, tamak, dengki dan iri hati, serta merta sejumlah sifat tidak terpuji lainnya. Pertentangan kedua watak itu sebenarnya menunjuk rujukannya kepada ajaran agama, oleh karena itu penyair selalu memperlihatkan hukuman yang diterima tokoh itu berupa nasib jelek, ketidakberuntungan karena mendapat murka dan kutukan Allah.
Keadaan itu terlihat sejalan dengan pembuka dan penutup hikayat. Dalam kedua bagian tersebut penyair selalu dengan sadar menghubungkan diri dengan Sang Penciptanya. Dalam pembuka penyair memohon kepada Allah agar diberi kemampuan menurunkan kisah secara lancar, di samping juga memohon diberi kesehatan dan umur panjang agar dapat menyelesaikan kisah yang hendak disampaikan itu. Misalnya, pembuka Hikayat Malem Diwa, terjemahannya sebagai berikut :
Alhamdulillah Rabbul’alamin, sekalian puji bagi Rabbana
Setelah salawat dengan puji, ku serahkan diri pada Rabbana
Ku mohon tolong kepada Allah, juga kepada para ambiya
Berkat hajar batu hitam, pertolongan Tuhan sesuai pinta
Berkat guru yang memberi ijazah, berkat syaikh dalam dunia
Semoga selamat dawat dan kalam, berkat zam zam sumur mulia
Berkat keramat kalam Tuhan, siang malam hamba bercinta
Karunia Engkau Malikul Makbud, tercapai maksud yang ku pinta
Engkau sampaikan yang ku hajat, tamat surat lekas sempurna
Ringan badan sehat jasmani, Tuhan Ghani yang beri tenaga
Penyair sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah dengan maksud agar karya yang diciptakannya itu tidak menyimpang dari tuntunan agama, bahkan dawat dan kalam untuk menulis itu pun dimihonkan keberkatan dari Allah. Dalam penutup penyair kembali menyampaikan syukurnya atas terkabulnya permohonan. Bagi karya tersebut sesuatu yang berharga bagi masyarakat, sekalipun serba kekurangan dari berbagai segi. Penyair dengan rendah hati memohon maaf dan memohon doa dari para pembaca. Misalnya,
Allah sampaikan yang dihajat, tamat surat kasih Rabbana
Berkat rahmat Kiyai Batu Lintang, terang penglihatan mampu membaca
Berkat doa Siti Fatimah, semua mudah kesukaran tiada
Andai ajal tiba inilah warisan, emas berlian hamba tak punya
Serba kekurangan jangan diupat, hamba berharap kasih setia
Mohonkan doa bagi penyurat, semoga selamat terhindar bahaya
Pagi sore hamba menangis, menyesali diri ilmu tiada
Jika pun ada sedikit amat, umpama pahat majal mata
Bagi orang tanggung bagi diri pun kurang, beginilah kesukaran hamba
Hina pada rekan buruk pakaian, hina pada Tuhan ilmu tiada.[9]
Reputasi seorang penyair dalam masyarakat Aceh adalah pada kemampuannya menyampaikan hikayat secara lisan dengan kemerduan suara dan kelihaian mengolah irama. Para ulama yang menjadi ikutan masyarakat, memanfaatkan keadaan tersebut untuk kepentingan dakwah, baik untuk menanamkan ajaran agama secara sederhana kepada anak-anak maupun untuk lingkungan yang lebih luas. Demikianlah masyarakat Aceh mewarisi sejumlah puisi yang berisi ajaran agama yang dinyanyikan oleh anak-anak di meunasah pada malam hari setelah mereka selesai belajar mengaji. Puisi olahan para ulama itu ada yang berbentuk sanjak dan ada juga yang berbentuk nazam, misalnya, Rukun Iman, Rukun Islam, Dua Puluh Sipat Tuhan, Rukun Sembahyang, dan sebagainya.
Para ibu di rumah sering memetik ratib sebagai lagu nina bobo yang isinya memohon kepada Allah agar si bayi diberi kesehatan dan menjadi anak yang saleh serta berbakti kepada orang tuanya. Karena itu sering terdengar lontaran ungkapan kepada anak yang terlalu nakal “seperti anak yang tidak diratibkan oleh ibunya”.
Secara tidak langsung, ikatan puisi yang dinyanyikan oleh sang ibu mengesan ke dalam ingatan si anak dan menjadikan ia akrab dengan bentuk-bentuk puisi yang ada dalam tradisi sastra Aceh. Lebih-lebih si anak menanjak besar dan bergaul dengan teman-teman sebayanya, mereka mengenal pula ikatan puisi yang sama yang mereka nyanyikan bersama-sama sebagai lagu anak-anak. Di samping itu, pengakraban tersebut berlanjut pula di meunasah dengan puisi-puisi perukunan yang mereka nyanyikan bersama-sama setelah selesai belajar mengaji. Sesungguhnya lagu-lagu masa kanak dan puisi yang berisi ajaran agama hasil olahan para ulama merupakan latihan pengenalan mereka dengan bentuk puisi cerita yang kemudian setelah dewasa mengantarkan mereka pada penikmatan penyampaian puisi hikayat, bentuk cerita yang lebih panjang.
Kegiatan para ulama memanfaatkan kegiatan sastra untuk pengajaran agama tampaknya tidak berhenti di situ saja. Untuk tingkat pendidikan agama yang lebih tinggi, pesantren (dayah), para ulama juga menciptakan lagi model pengajaran dalam bentuk puisi, dikenallah kemudian Hikayat Tajwid yang memuat aturan-aturan membaca Alquran, dan sebagainya.[10]
Terlihat bagaimana para ulama memanfaatkan tradisi penikmatan hikayat dalam masyarakat untuk kepentingan dakwah, di samping tetap aktif pada kedudukannya sebagai pengajar di berbagai tingkat pendidikan agama di Aceh.
Para ulama yang akrab dengan kegiatan keagamaan, baik dalam pengajaran agama maupun penyampaian khutbah Jumat dan tabligh pastilah sangat menguasai ayat Alquran dan Hadist sebagai rujukannya.
Model semacam itu tampaknya menjadi ciri yang umum untuk jenis karya tambeh dan syarah, setelah kutipan ayat dan hadist diturunkan larik-larik yang menjelaskan maknanya. Baik yang berjenis tambeh maupun jenis epos, sebenarnya dapat digolongkan pula ke dalam bentuk sastra perlawanan karena sasaran akhir pengajaran yang diungkapkan di dalamnya bermuara kepada ajakan atau mobilisasi massa untuk berperang sabil.
Seni sastra dan paket wisata budaya
Mengemas sastra Aceh untuk dapat disajikan sebuah paket sebenarnya bukanlah masalah yang berat asal saja ada kemauan dan tenaga yang kreatif yang memahami dan menggemari sastra Aceh. Di samping itu, juga didukung oleh pemain-pemain yang penuh dedikasi, mau belajar dengan sunguh-sungguh untuk keperluan penyajian paket budaya sastra tersebut.
Sebagai langkah awal tentulah diperlukan kejelian melihat kiri-kanan bagaimana tetanga-tetangga kita memperlakukan, mengembangkan dan menciptakan paket-paket budaya yang menarik. Acara-acara yang disajikan oleh media elektronik Kuala Lumpur. Pengamatan tersebut akan menimbulkan bandingan-bandingan dan inspirasi untuk mengolah bahan-bahan seni budaya yang dimiliki sendiri menjadi paket wisata budaya yang menarik karena memperlihatkan kekhasannya sendiri.
Hikayat dalam seni sastra Aceh merupakan bentuk sastra yang telah diturunkan ke dalam bentuk tulis. Di Malaysia karya-karya hikayat sudah lama diolah ke dalam bentuk drama, baik dalam radio maupun drama pentas, bahkan telah disajikan dalam bentuk sinetron. Kita pun sebenarnya dapat melakukan hal yang sama, sebab banyak juga hikayat dalam khazanah sastra Aceh yang layak dimunculkan dalam bentuk drama, tentu saja dengan cara memadatkan atau memilih beberapa episode saja dari hikayat tersebut.
Proses pengolahan tentulah menuntut kemampuan estetika dan pandangan ke depan yang sesuai dengan landasan ideal masyarakat Aceh, tidak menyimpang dari kepribadian masyarakat Aceh. Misalnya, Hikayat Malem Diwa, latar sosial budaya yang hendak ditampilkan dalam paket ini adalah bagaimana cara masyarakat menikmati hikayat, dalam suasana bagaimana, dan bagaimana hikayat itu disampaikan. Selain itu, juga dapat dipikirkan pengolahan hikayat untuk sandiwara radio atau tv. Sinetron Sawur Sepuh mula-mulanya merupakan sandiwara radio yang disajikan secara berseri lewat radio amatir dengan ilustrasi aneka macam bunyi dan suara sebagai setting yang sangat membantu menghidupkan cerita atau adegan yang disajikan. Kirang model sandiwara media semacam itu dapat diwujudkan, tentu sangat membantu untuk menarik perhatian dan aspirasi masyarakat akan kekayaan khazanah seni sastra Aceh.
Cerita yang dipilih untuk penyajian semacam itu tentulah yang sangat sesuai dengan horizon harapan masyarakat yang secara langsung memberikan nilai-nilai yang dipandang bermanfaat, walaupun tidak secara langsung berguna bagi wisatawan, tetapi mempunyai efek yang mendorong kearah kegemaran akan hasil kesenian sendiri.
Mengangkat cerita rakyat ke dalam bentuk drama. Hal itu dapat disajikan sebagai suatu legenda yang menarik dan memikat perhatian dalam pertunjukan rakyat. Dapat juga dsebutkan bahwa sesungguhnya berbagai bentuk tarian dan kesenian yang ada merupakan pementasan puisi lisan sekaligus. Selain itu, masyarakat Aceh sebenarnya memiliki juga satu bentuk kesenian lain yang dewasa ini sudah hampir tidak pernah lagi diperagakan, adalah kesenian meunasib, yang sesungguhnya merupakan peragaan kemahiran sang penyair lisan secara profesional. Kesenian meunasib mungkin dapat dirangkai dalam adegan penyampaian cerita rakyat yang secara simultan dapat diramu dari berbagai unsur tarian ke dalamnya. Selanjutnya juga perlu disebutkan sejumlah lagu anak-anak, di Jawa disebut tembang dolanan bocah (tembang mainan), yang tampaknya luput dari perhatian kita.
Penutup
Ungkapan seni sastra Aceh merupakan warisan masyarakat Aceh yang disampaikan dari mulut ke mulut, turun temurun, yakni dari satu generasi ke generasi lain. Sastra lisan lebih mengutamakan penikmatan telinga (pendengaran), karena itu penyampaian lisan selalu menghadirkan irama. Irama penyampaian terkadang menjadi faktor penting sehingga puisi yang disampaikan sering kali takluk kepada irama. Penyair lisan sering kali meningkat kepopulerannya justru karena kemahirannya dalam menguasai irama permainan.[11] Sastra Aceh banyak mengandung nasihat, ajakan, suruhan, larangan, dan sindiran. Di dalamnya termuat sikap, tingkah laku, serta pandangan hidup masyarakat Aceh. Penggunaannya mencakup seluruh aspek kehidupan, baik di lingkungan rumah tangga maupun dalam lingkungan masyarakat. Berdasarkan fungsi itu, jelaslah bahwa seni sastra Aceh mengandung berbagai mutiara kehidupan. Kandungan seni sastra Aceh antara lain berkenaan dengan nilai budaya masyarakat Aceh dalam berpikir, bernalar, bertindak, dan berkomunikasi baik vertikal maupun horizontal.[12] Oleh karena itu, perlu kajian sungguh-sungguh agar pewarisannya dapat terus dilanjutkan.
Keliru apabila ada pendapat yang menyatakan bahwa nilai-nilai budaya tradisional yang melekat pada sastra lisan tidak relevan lagi untuk dikaji di zaman moderen ini. Di zaman yang mengedepankan rasionalitas seperti sekarang ini memerlukan sentuhan-sentuhan budaya sebagai penyeimbang bagi perkembangan intelektual seseorang. Sebagai kaum intelektual, kecerdasan dan kehalusan budi hanya diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman-pengalaman budaya. Hal itu seperti dikatakan oleh Subagio, bahwa orang boleh tinggi tingkat kesarjanaannya dan sangat ahli dalam lapangan pekerjaannya tetapi selama ia tidak punya minat ataupun peka kepada rangsangan-rangsangan budaya, dia belumlah berhak dinamakan intelektual.[13]
Kesenian Aceh sungguh sangat kaya namun sudah lama terabaikan, tidak berkembang bahkan terancam punah. Pertumbuhan masyarakat yang semakin moderen, masuknya aliran listrik ke pedesaan yang dikuti membanjirnya media massa elektronik telah semakin mempercepat tergusurnya potensi seni budaya dalam masyarakat.
[1] Nurdin Daoed, “Roh Kesenian Aceh” dalam Darwis A. Soelaiman (ed), Warisan Budaya Melayu Aceh, Banda Aceh : Pusat Studi Melayu-Aceh, 2003, hlm. 78.
[2]Heddy Shri Ahimsa Putra, “Budaya dan Kebudayaa”, Makalah Diklat Tenaga Teknis Bidang Nilai Budaya, Bogor, 12-18 Januari 2006.
[3]Lihat Living Traditions of India: Crafts of Gujarat, 1985.
[4] Darwis A. Soelaiman, hlm. 68.
[5] Hasjmy, 1983, hlm. 256.
[6] Djajadiningrat II, 1934 , hlm. 279.
[7] T. H. El Hakimy, “Melacak Ragam Sastra Aceh”, dalam Imra T. Abdullah, Piasan Raya Alam Budaya Pantai Barat, Pemda Aceh Barat, 1996, hlm. 90-99.
[8] G.W.j Drewes, Dicrection for Travellers on the Mystic Path, The Hague : Martinus Nijhoff, 1977, hlm. VIII.
[9]L.K. Ara, Taufik Ismail, dan Hasyim KS (ed.), Selawah Antologi Sastra Aceh Sekalas Pintas, Yayasan Nusantara : Jakarta, 1995, hlm 590-594.
[10]Cod. Or. 8127 UBL
[11]Albert B Lord, The Singer of Tales, Harvard University Press, Cambridge, 1981, hlm. 37.
[12] Wildan, dkk., Nilai-nilai Budaya dalam Narit Maja, BKSNT Banda Aceh, 2002, hlm. 2.
[13]Siti Aisyah Murad, Konsep Nilai dalam Kesusastraan Melayu. Kuala Lumpur. Dewan Bahasa dan Pustaka, 1996.

« Older entries
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.